Suroboyoku!
![]() |
| Sumber Gambar : Google |
Assalamualaikum semuanya!
Saya berasal dari sebuah kota di Timur Pulau Jawa.
Ya, Surabaya. Kota saya ini merupakan ibukota provinsi Jawa Timur sekaligus
kota metropolitan terbesar kedua di Indonesia setelah Jakarta.
Kota saya ini merupakan kota yang cukup unik. Kita
mulai dari penduduknya.
Surabaya merupakan kota di pesisir pantai yang
berada d dataran rendah dengan adanya Tanjung Perak sebagai persinggahan bagi para
pedagang di masa lalu. Maka tak heran jika banyak orang-orang Tionghoa maupun
Arab yang awalnya berdagang di Surabaya untuk mengadu nasib, memutuskan untuk
menetap di Surabaya hingga berkeluarga. 2 suku ini merupakan suku yang dominan
di Surabaya, selain Suku Jawa yang menjadi mayoritas disini.
Bahasa yang digunakan sehari-haripun juga unik.
Secara rumpun, bahasa Surabaya adalah Bahasa Jawa. Namun dalam perkembangannya,
bahasa Jawa ini telah mengalami transformasi menjadi Bahasa ‘Suroboyoan’ yaitu
sejenis Bahasa Jawa Ngoko-tanpa mengenal istilah tingkatan seperti Bahasa Jawa
Kromo-dengan tambahan umpatan-umpatan khas. Bahasa Suroboyoan identik dengan
bahasa yang ceplas-ceplos, terdengar kasar, dan apa adanya.
Masyarakat Surabaya adalah masyarakat yang ramah-seperti
kebanyakan suku Jawa lain.
Tetapi ciri khusus yang membedakan adalah masyarakat
disini yang kurang suka basa-basi dan ceplas-ceplos, mengatakan sesuatu apa
adanya, jadi sabar-sabar ya jika kalian sedang ngobrol sama kita.
Tentang makanan, Surabaya adalah gudangnya makanan
khas. Sebut saja Rujak Cingur, yaitu sejenis rujak berisi sayur-sayuran seperti
krai (sejenis timun), kangkung, tempe, tahu, ditambah irisan cingur (hidung
sapi) yang disiram dengan ulekan bumbu rujak yang terdiri dari kacang tanah
yang dihaluskan, ditambah petis hitam dari udang, plus cabe rawit yang pedas.
Semua berpadu satu ditemani kerupuk yang renyah.
Ada lagi Lontong Balap, yaitu lontong yang terbuat
dari beras lalu dipotong-potong di piring, disiram oleh kuah berisi kecambah,
ditambah irisan lentho (terbuat dari singkong dan kacang kedelai) dan tak lupa
sate kerang yang siap menemani plus es degan.
Pernah mendengar Semanggi Suroboyo? Yap. Semanggi
adalah salah satu sayuran yang tumbuh di kawasan hutan, hanya diambil daunnya
saja lalu sekedar direbus dengan air. Selanjutnya disiram oleh bumbu semanggi
yang terbuat dari rebusan ubi jalar yang dihaluskan plus ditambahrempah-rempah
lain, ditambah kerupuk puli (terbuat dari nasi) lalu ditambah sambel diatasnya.
Maknyus sekali. Masih ada Gado-Gado, Tahu Campur, Lontong Mie, Tahu Tek, dan
lain-lain sebagai kuliner khas Suroboyo yang mantap!
Urusan perut selesai. Mari kita Jalan-jalan.
Surabaya terkenal dengan julukan ‘Kota Pahlwan’
karena daya juang arek-arek Suroboyo di masa lalu. Maka untuk urusan wisata,
banyak museum yang tersebar di Surabaya dengan tema yang beragam. Mulai dari
Museum Tugu Pahlawan yang berisi diorama perjuangan Arek-arek Suroboyo di masa
lampau, lengkap dengan pertunjukkan bioskop mini yang memutar film
kepahlawanan, lalu ada Museum Kesehatan yang berisi bermacam alat
kesehatan-dari tradisional hingga moderen, yang bahkan juga menyimpan peralatan
santet di masa lalu, hingga Museum Rokok yang dikelola oleh Sampoerna, sebuah
museum yang menampilkan aneka jenis tembakau, rokok, mata uang, hingga koleksi
kendaraan yang dimiliki Pendiri Brand Rokok Sampoerna. Mereka juga menawarkan
bus gratis dengan nama ‘Surabaya Heritage Track’ yang beroperasi setiap hari
untuk mengelilingi beragam objek wisata di Surabaya secara gratis!
Selain museum, Surabaya juga memiliki banyak taman
menarik yang cocok dikunjungi anak-anak muda seperti Taman Bungkul, Taman
Prestasi, Taman Ekspresi, dan yang lain.
Bosan dengan taman? Surabaya juga punya wahana
bermain baru dengan konsep outdoor yaitu ‘Surabaya Night Carnival’ sebuah arena
bermain yang terdiri dari banyak jenis wahana seperti roller coaster, kora-kora,
bianglala, gokart, hingga museum tematik. Sesuai namanya, wahana ini hanya
beroperasi dari sore hingga malam hari.
Surabaya adalah kota metropolitan yang nyaman untuk
ditinggali. Masyarakatnya, budayanya, makanannya, hingga sarana rekreasinya
cukup cocok bagi orang-orang yang ingin hidup bergaya urban tetapi dengan tetap
menjunjung kebersamaan hidup dengan masyarakatnya.
Jaya Suroboyoku!

Komentar
Posting Komentar